Rabu, Juli 14, 2010

Lanjutan Kisah Perjalanan Masa Kecilku dengan Fransiska Indonesia


Cerita ini berawal dari sebuah pertemuan yang tidak mengasikkan di kelas Taman Kanak-kanak Srikandi. Pertemuan yang sangat memalukan kalau boleh disimpulkan. Pertemuan antara Budi Afriaz kecil dengan Fransiska Indonesia yang manis intinya. Dan sekarang, kami pun telah berteman.

Siang hari, sepulang sekolah, aku (Budi Afriaz) dengan Fransiska Indonesia tidak diijinkan untuk langsung pulang ke rumah oleh Ibu Maryam. Katanya ada latihan khusus menggambar untukku dan latihan membaca puisi untuk Fransiska. Memang, akhir-akhir ini aku dan Cika (panggilan akrab Fransiska) sering mengikuti perlombaan di tingkat kecamatan untuk mewakili TK Srikandi. Dan semenjak perlombaan itu, kami (aku dan Cika) sering bersama-sama. Mulai dari berangkat sekolah, istirahat, pulang sekolah. Dan kini, kami harus bersama-sama latihan di rumah Ibu Maryam.

”Kita jalan kaki aja yuk ka?!”

”Tapi kan jauh Bud, aku ga kuat.” Cika agak sedikit mengeluh.

”Ahh.. deket kok. Gue tau jalan motong yang deket. Tenang aja lah.” Seperti orang dewasa atau bisa dikatakan sok dewasa, aku berusaha meyakinkan Cika yang memang dari tadi sudah terlihat sangat lelah. Apalagi ditambah ukuran tas yang dibawanya tidak seimbang dengan badannya yang mungil itu.

Ya, aku memang agak terlihat sok dewasa jika dibandingkan dengan teman-teman TK-ku yang lain. Mungkin karena lingkungan tempat aku bermain di rumah. Memang, aku lebih banyak berteman dengan yang lebih tua. Di usiaku yang baru 5 tahun ini, aku sudah berteman dengan siapa saja di lingkungan rumah. Kebanyakan anak-anak yang sudah duduk di bangku kelas 5-6 SD sampai SMP kelas tiga, termasuk Pak Tarman penjaga keamanan lingkungan rumah dan Pak Muji seorang kusir delman menjadi temanku. Apa saja aku tanyakan kepada mereka, dari mulai hal yang aku tidak tahu sampai hal yang mereka pun juga tidak tahu. Ya, itulah mengapa aku sedikit sok tua dari kebanyakan anak-anak seusiaku. (inget ya!! Sedikit lebih tua lho... dan hanya perilakunya aja... bukan umurnya... wakakakakakakaka)

”Duuh, kok kita belum sampe-sampe juga yah?” Cika agak sedikit emosi.

”Sabar dong! Gue juga lagi nginget-nginget lagi lewat jalan mana yah, gue lupa nih.” aku pun juga ikut emosi.

”Jadi kamu lupa?? Ahh, tau gitu aku ikut bareng sama Ibu Maryam aja deh tadi.” Cika menghentikan langkahnya.

”Oh, jadi lu pengen gue jalan sendirian? Tega banget lu!! Udah, ayo jalan lagi!!” Kali ini aku yang emosi.

Dengan berjalan kaki hampir sejauh 3 km, akhirnya kami sampai di rumah Ibu Maryam. Benar-benar perjalanan yang sangat melelahkan buat anak seumuran kami. Ditambah lagi selama perjalanan kami bertengkar. (bukan gue sih yang mulai, tapi gue yang jadi paling emosi akhirnya)

Rumah Ibu Maryam tidak terlalu besar, tapi memiliki halaman yang luas tanpa pagar dan banyak pohon di sekitar pekarangan rumahnya. 5 meter di depan rumah Ibu Maryam terdapat bale-bale yang akhirnya aku gunakan sebagai tempatku latihan menggambar pada siang itu. Siang itu, tidak terlalu terik, cuacanya lumayan mendung dengan angin yang tidak terlalu kencang dan sinar matahari yang berusaha menyelinap ke arah tempatku menggambar melewati celah-celah rindangnya daun pohon.

”Ini Bud teh nya, kata Bu Maryam kamu latihan di sini aja, aku di dalam, katanya takut ganggu kamu lagi gambar. Soalnya aku kalo latihan puisi suka teriak-teriak. Nanti kalo udah selesai gambarnya, kamu disuruh masuk, kasih liat Ibu.” Cika mengantar segelas teh dan sebuah amanat dari Ibu Maryam kepadaku.

”Iya deh.” akupun mengangguk.

Cika pun berlalu meninggalkan aku yang sendirian di bawah pohon nangka rindang, di atas bale-bale bambu buatan Pak Sofyan suami Ibu Maryam. Akupun masih memperhatikan Cika yang berlalu sampai akhirnya menghilang dari pandanganku. Sejenak akupun berpikir, Cika itu sebenarnya anak baik. Sayang, sifat tak sabarannya itu yang menjadi kekurangan buatku (Loh?? Kenapa buatku?? Emang ada apa sih nih?? Hahaha). Dan aku kembali meneruskan gambarku yang sempat terhenti.

Aku memang senang sekali menggambar. Kata Ibuku, dari kecil aku memang sudah senang mencoret-coret apapun di rumah. Mulai dari kertas-kertas kosong yang sengaja dibelikan ayah untukku, buku arisan Ibuku, berkas-berkas penting ayah, tembok rumah, lemari pakaian, lantai, layar televisi sampai mukena Ibuku. Setiap harinya, ada saja perbuatanku yang tidak jauh dari yang namanya mencoret-coret yang menggemparkan semua orang di rumah. Oh iya, aku ingat, aku pernah mencoret muka adikku ”Yoka” dengan gincu Ibuku yang warnanya sangat merah menyala. Sampai gigi adikku pun aku coret dengan gincu merah Ibuku. Mungkin bakat seniku bisa dikatakan dimulai dari hal-hal konyol, sepele dan sangat tidak ada nilainya pada waktu itu. Yang ada hanya membuat marah Ayah dan Ibu setiap harinya. Tamparan gulungan koran, cambukan sapu lidi sampai diikat dengan keadaan telanjang bulat di pohon pisang halaman rumah merupakan santapan sehari-hari buatku. Anehnya, Ayah masih saja membelikanku alat-alat gambar lengkap pada waktu itu.

Akupun tidak akan menceritakan masalah kenakalan-kenakalanku yang bisa menjadi berpuluh-puluh halaman nantinya. Aku akan menceritak itu semua di lain kesempatan, di cerita pendek yang lain nantinya. Sekarang kembali ke sebuah bale-bale bambu buatan Pak Sofyan, ke bawah pohon nangka yang pada siang itu menjadi studio gambar dadakan buatku.

”daaaaaarrrrr..” Suara petir menggelegar sangat keras.
Seketika itu juga hujan mulai turun. Tak kenal kompromi. Tak tahu kalau aku sedang berada di luar rumah dengan beberapa peralatan gambar yang agak berserakan di sana-sini yang membutuhkan cukup waktu untuk memberesinya.
”Cikaaaa.. ambilin gue payung doong..” Akupun berteriak kencang ke arah rumah Ibu Maryam.

Beberapa menit kemudian, setelah aku membereskan alat-alat gambarku, Cika datang menghampiriku dengan payung merah yang sangat besar. Dari tadi, apapun yang dipakai Cika terlihat sangat besar, mungkin karena postur badannya yang sangat mungil, jadi apapun yang dikenakannya selalu terlihat kecil.

Aku pun melompat ke arah Cika sambil kemudian ikut membantunya memegangi gagang payung merah yang dipegangnya.

“Makasih ya Cik”
“Iya Budi. Eh, kamu disuruh ganti baju tuh sama Ibu Maryam” Cika menunjuk ke arah kamar Ibu Maryam.
“iya iya…” Aku langsung berlari ke kamar Ibu Maryam.

Aku pun sudah berganti baju. Sepertinya baju ini terlihat kecil dan cukup sempit buatku. Jelas saja, baju yang aku pakai ini adalah baju Dodi anak Ibu Maryam yang masih berusia empat tahun. (apa mungkin memang badanku saja yang besar?? Udahlah, ga usah dibahas juga kan..) Dan sekarang, aku melanjutkan kembali gambarku yang mungkin sudah selesai kalau saja tadi hujan tidak turun.

Aku kembali menggoreskan crayon warna yang sesekali Ibu Maryam mengawasi dari kejauhan sambil memberikan komando kepadaku.

“Kalau menggambar itu harus disiplin. Ga boleh buru-buru biar hasilnya bagus. Gak boleh kotor. Hati-hati ingusmu nanti netes ke kertas gambar.” Suara Ibu Maryam terdengar dari balik tembok.

”Cerewet... Emang ngegambar itu gampang apa??” Jawabku dalam hati.

Aku sangat serius menggambar. Bukan karena diawasi Ibu Maryam, tapi memang menggambar adalah salah-satu kegiatan yang sangat aku senangi dan seriusi selain memanjat pohon, berenang, bernyanyi, bermain ketapel, membaca, mengusili adikku, dan membuat jebakan di sekitar halaman rumah. Menggambar bisa membuatku menuangkan apa yang sedang ada di kepalaku tapi tidak bisa diwujudkan di kenyataannya. Seperti, aku bisa terbang sampai ke langit, aku bisa bermain sepatu roda, aku bisa mengemudikan kereta api, aku bisa naik di atas gajah, aku bisa mengenakan topi polisi sambil menembakkan pistol ke atas, aku bisa berdiri di atas satu tangan, aku bisa membangun gedung-gedung bertingkat walaupun tidak pernah lurus bangunannya, dan apapun yang sedang ada di pikiranku saat itu bisa aku tuangkan seketika dengan menggambar walaupun medianya harus mukena Ibuku.

Sore sudah mulai datang. Langit mulai gelap. Hujan masih saja deras. Aku masih saja sibuk mencoret-coret kertas gambar dan Cika pun terlihat lelap pulas di atas sofa beludru yang terletak di ruang tamu rumah Ibu Maryam. Cika terlalu lelah setelah hampir dua jam berteriak-teriak tidak jelas dan emosi sekali membacakan puisinya yang berjudul ”Layang-layangku ke surga” yang akhirnya berhasil menggangguku pikiranku, karena aku pun ikut hapal bunyi tiap bait puisinya itu. Awalnya, aku juga tidak tahu apa yang ada di pikiran Cika. Menciptakan puisi yang sangat tidak masuk akal itu. Mana mungkin layang-layang bisa panjang benangnya sampai menyentuh surga. Tapi, sekarang, pada saat aku merangkum cerita ini, aku baru mengerti maksud puisi tersebut. Cika ingin memberikan sebuah doa kepada Ibunya yang dari kecil sudah pergi meninggalkan dirinya yang sekarang tengah menantinya di surga.

Itulah salah satu kelebihan Cika. Seorang gadis kecil yang baru hidup di dunia berusia seumur jagung tapi bisa membuat puisi yang sangat indah untuk Ibunya. Kebanyakan puisi yang dibuatnya selalu bertemakan tentang kerinduan kepada Ibunya. Tentang sebuah anak kecil yang sangat merindukan kasih sayang seorang Ibu. Dan itu hanya bisa ia wujudkan dalam bentuk syair-syair puisi yang sempat aku katakan tidak masuk akal. Seperti halnya aku, menjadikan menggambar sebagai sebuah media yang untuk menuangkan hal yang mungkin tidak bisa diwujudkan pada kenyataannya. Tapi, apa yang aku inginkan kebanyakan adalah hal-hal yang sangat konyol. Tidak seperti keinginan Cika yang sangat tulus itu.

Gambarku pun sudah selesai. Lama sekali proses pengerjaannya. Karena kertas yang aku gunakan untuk menggambar itu sangat besar yang sekarang baru aku tahu kalau ukuran kertasnya adalah A2. (Gila, ini mah bukan lomba gambar, tapi lomba buat poster. Haha ) Aku menghampiri Ibu Maryam yang sedang memasak di dapur sambil membawa kertas gambar yang tadi masih putih bersih dan sekarang sudah berwarna-warni aku gores dengan crayon gambar pemberian Ayahku.

”Hmmm... bagus, tapi masih ada yang salah. Kamu masih tidak disiplin. Masih ada goresan yang keluar garis. Ya sudah, kamu buat satu lagi, tapi harus rapi ya.” Ibu Maryam mengomentari hasil gambarku sambil mengelus-elus kepalaku.

”Tapi saya capek bu. Saya mau istirahat dulu. Cika aja tidur tuh, gak latihan lagi” Aku berusaha memprotes perintah Ibu Maryam.

”Cika udah hampir sempurna baca puisinya. Lagipula suaranya udah hampir serak. Kalau kamu, masih harus banyak latihan, masih belum disiplin. Hasilnya aja masih seperti ini.” Ibu kembali melawan kata-kataku.

”Masa istirahat bentar aja gak boleh. Kalo gitu, saya ga jadi ikutan lomba aja deh.” Aku kembali mengeluh.

Ibu Maryam hanya tersenyum melihat tingkah lakuku seperti itu. Dan mendekatkan wajahnya ke mukaku dan kemudian berkata.

”Budi pasti bisa. Suatu saat nanti, kamu pasti bisa jadi orang hebat dan ngajarin cara menggambar yang baik ke anak-anak yang lain. Budi akan masuk TV kayak Pak Tinosidin. Dan Ibu sama Ayahmu pasti akan sangat bangga dengan itu.” Dengan sangat lembut Ibu Maryam menyemangatiku yang sudah hampir habis tenaga ini setelah hampir seharian menunduk sambil menggores-gores kertas gambar besar berukuran A2.

”Ya udah, kamu gambar di kertas yang kecil aja ya? Kertasnya ada di bawah meja tamu.” Ibu Maryam kembali memerintahku untuk menggambar lagi.

Aku pun kembali beranjak ke ruang tamu dan mengambil kertas gambar yang katanya kecil itu tapi tetap saja besar yang baru sekarang aku tahu kalau ukuran kertas itu adalah A3.

Aku tidak kurang akal. Aku gunting kertas gambar itu menjadi dua bagian supaya lebih kecil dan tidak membutuhkan waktu lama untuk memenuhi ruangan putih kertas gambar itu. Ternyata benar, hanya setengah jam aku berhasil membuat dua kertas putih itu menjadi penuh warna dan aku pun kembali menghampiri Ibu Maryam yang masih memasak di dapur sambil membawa salah satu kertas yang aku gunting menjadi dua bagian tadi, dan yang satunya aku tinggal di ruang tamu.
“Ini Bu… udah selesai… saya istirahat yah?” Aku menunjukkan hasil gambarku kepada Ibu Maryam dan sedikit mengecilkan suara seolah sudah letih berat.

“Bagus… hmm... tapi kenapa kertasnya kecil yah??” tanya Ibu Maryam sambil mengernyitkan dahinya.

“Lah… kata Ibu, saya disuruh gambar di kertas yang kecil.” Aku berusaha meyakinkan Ibu Maryam.

”hmmm... iya... iya... ya sudah, kamu istirahat sana... bangunin Cika... suruh mandi, abis itu kita makan malam” Ibu Maryam menyuruhku sambil tersenyum.

Aku membangunkan Cika yang sangat pulas tidurnya. Sebenarnya aku pun tidak tega membangunkannya. Mungkin di alam bawah sadarnya itu, dia sedang bermimpi bermain layang-layang bersama Ibunya. Tapi apa boleh buat, aku harus membangunkannya. Karena sore sudah mulai berganti malam dan dia juga belum makan sejak tadi ketika jam istirahat di TK Srikandi.

”Cik... Cik... Cikaaa... Bangun Cik!! Disuruh mandi tuh, abis itu kita makan...” Aku berusaha membangunkan Cika yang terlihat sangat manis ketika tidur sambil sesekali menepuk-nepuk pipinya yang putih dan halus itu.

”hoaaaaaaammmm... mmmmph...” Cika pun bangun dan agak terkejut. Entah apa yang membuatnya terkejut, aku juga tidak tahu.

”Eh iya Cik, sini deh bentar...!!” Aku memanggil Cika yang sudah hampir masuk ke dalam kamar.

”Nih buat lo...!!” aku menyodorkan sebuah kertas gambar kepada Cika.
Sebuah kertas gambar yang tadi aku gunting menjadi dua bagian yang salah satunya aku serahkan kepada Ibu Maryam untuk dikoreksi. Sebuah kertas dengan gambar yang agak sedikit aneh di mata Cika. Sebuah kertas dengan gambar yang artinya tergolong absurd di mata anak-anak seusia Cika. Sebuah kertas dengan gambar yang menggambarkan apa yang sedang aku pikirkan dan aku rasakan pada saat itu dan itu hanya bisa aku wujudkan dengan media sebuah kertas gambar. Sebuah kertas dengan gambar seorang anak laki-laki dan perempuan bergandengan tangan ditambah lambang hati berwarna merah di tengahnya. Sebuah kertas dengan gambar yang berhasil membuatku gagap, berkeringat, resah, panik, ragu-ragu dan tidak bernyali untuk memberikannya kepada Cika.

Awalnya aku berharap Cika tersenyum, sedikit panik dan salah tingkah kemudian memelukkun kesenangan, tapi ternyata tidak. Tidak seperti yang aku bayangkan. Tidak seperti yang sudah aku gambarkan di kepalaku awalnya.

”Ini gambar apa Bud???” Cika bertanya dengan polosnya.

”.....”

”Kok kamu diem sih? Aku tanya, ini gambar apaa??” Cika kembali bertanya.

”.....”

”Ahh.. nyebelin ahhh... ditanyain juga...” Cika jadi semakin jengkel.

”hmmm... itu... hmmm... angin...” Aku gugup. Gugup segugup-gugupnya aku pernah gugup.

”Lah?? Kok aku ga ngerti...” Cika makin bingung. Itu terlihat sekali dari matanya yang sangat ingin tahu itu.
”hmmmm... eh... ini apa yah... ini gambar cowok sama cewek... cowok itu gue, trus cewek itu elu...” Masih gugup segugup-gugupnya aku menjelaskan maksud gambar ini kepada Cika.

Sesaat, aku berubah dari anak laki-laki nakal, cuek dan masa bodoh menjadi anak laki-laki penakut dan bloon. Dan itu karena dia. Dia, Cika, Siska, Fransiska Indonesia yang awalnya saya yang cukup percaya diri memperkenalkan diri, dan sore itu, semua berubah terbalik. Saya gugup, gugup segugup-gugupnya saya pernah gugup.

”Trus... gambar merah ini tuh apa???” Cika kembali bertanya.

”aghrghrghrghrghgrhgrhgrhhhhhh... Cika, kenapa lo polos banget sihhhhh???” Kataku dalam hati.

”hhhmm... ini tuh gambar hati... kalo kata temen gue sih lofe... artinya gue lofe sama elu...” Aku berusaha menjelaskan serasional mungkin supaya Cika mengerti dan tidak bertanya lagi.

”Trus lofe itu artinya apa???” lagi-lagi Cika bertanya.

”hmmmm... itu yah... hmmmm... lofe itu artinya... elu sama gue pacaran...” Damn! Akhirnya aku mengatakan apa sedang yang aku rasakan. Sebuah perkataan yang sangat aku harapkan mudah keluar tapi ternyata sangat sulit. Sebuah perkataan yang seharusnya tiga puluh menit tadi keluar dari mulutku tapi seharusnya juga tidak boleh keluar dari mulut anak umur lima tahun dan masih duduk di bangku TK seperti aku ini. Perkataan yang aku sadari, siapa saja boleh mengeluarkannya. Ini hak manusia untuk berpendapat. Hak manusia untuk berekspresi. Hak manusia untuk memiliki rasa yang ada pada dirinya dan hidupnya.

”Trus... kalo kita pacaran itu bisa kenapa dan ngapain???” Lagi-lagi cika bertanya

Dan kali ini aku tidak tahu lagi harus menjawab apa. Karena aku hanya tahu sampai sebatas lofe dan tidak lebih dari itu. Aku pun memutar otak, dan pada situasi seperti ini aku selalu membayangkan diriku seperti MacGyver yang berusaha mencari solusi setiap dihadapkan sebuah masalah.

”hmmmm... pacaran itu... gini... elu tutup mata deh!!!”

”Trus...???” Cika menutup matanya

”Ya elu rasain aja dan bayangin gimana rasanya dikasih gambar sama gue??” aku makin gugup.

”Gimana cara bayanginnya??” Cika masih terus bertanya dan masih memejamkan matanya.

Cika masih saja bingung. Padahal aku sudah berusaha keras apa maksud aku memberikannya kertas bergambar itu.

Aku makin gugup segugup-gugupnya aku pernah gugup. Padahal aku sudah berusaha keras menyembunyikan kegugupan ini.

Cika masih memejamkan matanya. Kali ini, dia makin terlihat lucu.

Aku mengdekati Cika yang masih memejamkan matanya. Aku berusaha membisikkan di telinganya, karena aku malu mengatakan dan menjelaskan jawaban dari serangan-serangan pertanyaannya dengan suara keras.

”Pacaran itu artinya... hmmm... elu sama gue ga boleh pisah...” aku berbisik.

”Trus??” Cika masih saja mengeluarkan pertanyaan singkat tapi mematikan.

”.....” Aku bingung bercampur gugup.

”Kok diem sih??” Cika makin penasaran.

”.....” Aku makin bingung dan bercampur makin gugup.

“Budi...???” Cika memanggil namaku dan aku hanya diam.

“.....”

Wajahku sangat dekat dengan wajah Cika, dan aku makin berusaha mendekati wajahku dengan wajahnya menjadi lebih dekat, sangat dekat dan sekarang sudah terlalu dekat sampai aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang sangat kencang. Sampai akhirnya bisa kupertemukan bibirku dengan bibirnya. Ya, bibir Cika. Bibir anak perempuan yang berusia lima tahun dan tidak mengerti apa itu arti pacaran tapi aku memperkenalkan dengan sok tahu dan sok tua kepadanya arti dari kata itu. Bibir dari anak perempuan yang sangat pandai menulis syair puisi. Bibir yang sangat hangat, manis dan lembut, sekarang telah melekat dengan bibirku. Dan kejadian itu sangat cepat sama cepatnya Cika kemudian membuka matanya, lebar sekali sambil melotot, kemudian mengecil, dan secara perlahan mengeluarkan air mata yang pelan-pelan berlarian kecil menyusurin pipinya yang putih dan sangat halus itu.

”Eh... udah... kenapa nangis???” Sekarang aku yang jadi kebingungan.

”Hikksss... Hiksss...” hanya suara isak tangis yang sekarang terdengar dan keluar dari mulut berbibir mungil itu.

Aku berusaha menutup mulutnya dengan tanganku.

Cika berusaha juga menangis sekencang-kencangnya.

Aku jadi semakin berusaha menyuruhnya untuk diam dan berhenti menangis. Cika juga semakin berusaha mengeraskan tangisannya dan kini tidak hanya menangis, tapi menjerit dan itu membuatku makin bingung, dan takut. Aku takut Ibu Maryam mendengar suara tangis Cika dan pasti akan memarahiku kalau akhirnya Cika menceritakan apa yang terjadi pada dirinya kepada Ibu Maryam.

”Udah ya Cik... jangan nangis lagi... gue kan ga sengaja cium elu... Aku berusaha menenangkan Cika dan membela diri.

”Hikss... Hikss...” Tangisan itu perlahan-lahan mengecil dan berhenti yang sesekali masih diiringi suara isak.

Aku berusaha menghapus air mata Cika dari pipinya. Aku takut Ibu Maryam akan melihat mata Cika yang menggendut dan merah karena menangis.

”Kenapa elu nangis Cik??” Aku penasaran.

”.....” Cika masih diam dan terisak.

”Cika...”

”Entar kalo aku hamil gimana Bud...” Suara itu keluar dengan polosnya.
”.....” Sekarang aku yang terdiam dan bingung.

”Aku takut... Papa pernah bilang ke aku, katanya pacaran itu cuma boleh dilakuin sama orang dewasa...” Suaranya makin lirih.

”Ya gak mungkin lah... Masa dicium aja bisa hamil...” aku berusaha meyakinkan Cika.

Walaupun pada saat itu aku juga tidak tahu bagaimana caranya membuat seorang perempuan hamil. Tapi aku yakin, kalau ciuman itu tidak akan bisa membuat seorang perempuan hamil.

”Ya udah, sekarang elu mandi gih!! Udah kucel gitu tuh, jelek... hehe” Sambil membangunkannya untuk berdiri.

”Iya deh... Gambar ini beneran buat aku yah?”

”Iya... buat elu... dan kita sekarang pacaran ya??” Aku menganggukkan kepala.

”Iya...” Cika tersenyum dan berlari ke arah kamar mandi.

Kejadian itu yang sampai saat ini masih sangat tersimpan rapi di kepalaku. Kejadian tolol yang pernah aku perbuat kepada seorang anak perempuan polos dan tak tahu apa-apa.
Kejadian yang membuat kami akhirnya kemana-mana selalu bersama. Berangkat ke sekolah, istirahat, pulang dari sekolah, liburan, jalan-jalan dengan Papa-nya Cika, belajar, bermain dan apapun kami selalu lakukan berdua. Kejadian yang setelahnya menjadi sangat indah tapi tidak berlangsung lama sampai akhirnya Cika mengantarkan gambar itu ke rumahku yang pada saat itu, aku sedang tidak ada dirumah. Cika mengembalikan gambar yang pernah aku buat dengan susah payah dan dengan susah payah juga aku menjelaskan kepadanya apa arti dan maksud dari gambar itu. Cika mengembalikan gambar yang pernah menjadi keinginanku kepadanya. Gambar yang seharusnya saat ini masih ada di tangannya. Gambar tentang sepasang anak manusia yang berusaha menggabungkan dua hati jadi satu. Gambar yang harusnya menggambarkan kebersamaan kami pada dunia nyata. Kebersamaan yang aku harapkan bisa terus terwujud sampai kapanpun tapi dikembalikan olehnya dan kemudian pergi tidak tahu kemana. Pergi tanpa pamitan kepadaku, orang yang pernah berjanji akan bersama-sama sampai kapanpun. Pergi tanpa meninggalkan jejaknya sedikitpun hingga saat ini, aku tidak tahu dia ada di mana, hanya ada di kepalaku, di hati ini dan di tulisan ini.

Entah seperti apa dia sekarang, dimana dia saat ini, bagaimana kabarnya hari ini, siapa pacarnya sekarang, aku sama sekali tidak tahu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuknya, Fransiska I

Awal Pertemuanku Dengan Fransiska Indonesia

Jakarta, 18 Tahun Silam

Pagi ini adalah pagi pertamaku (Budi Afriaz – seorang anak kecil
dengan kenakalan yang melebihi batas kewajaran anak seusianya)
melakukan aktifitas akademik. Pagi ini dimana seorang perempuan
berumur 25 tahun “Ibuku” mulai sibuk mempersiapkan segala
sesuatu yang harus dibawa anak pertamanya ke Sekolah Taman
Kanak-kanak. Sekolah dimana banyak sekali permainan dan hal-hal
yang seharusnya sangat disenangi anak kecil seusiaku.


Ayahku juga ikut kena imbasnya. Dengan mata yang masih berair
karena kurang tidur akibat harus bekerja keras sampai malam demi
menghidupi Istri dan kedua anaknya, ia harus bangun memanaskan
mesin mobil Datsun abu-abu yang akan digunakannya untuk
mengantarkan anak kecil nakal tersayangnya itu pergi ke sekolah.


Kami pun berangkat dengan kaca mobil sengaja terbuka supaya kami
bertiga bisa menghirup segarnya udara pagi di sepanjang daerah
permata hijau yang masih sejuk. Kesejukan yang diciptakan dari
rindangnya pohon-pohon besar dan kebun sepetak milik penduduk
sekitar. Kesejukan yang cukup memberikan semangat Ayahku untuk
menjalankan Mobil Datsun abu-abu tidak ber-AC nya menuju
sekolahku. Hmmm, mungkin ini adalah alasan tepatnya kenapa Ayah
selalu senang mengendarai Mobil kesayangannya dengan kaca
terbuka. Ya, mobil Ayah tidak memiliki AC.


Tibalah saya di sekolah Taman Kanak-kanak Srikandi. Begitulah
tulisan merah yang tertera di papan triplek putih dengan mudahnya
aku baca. Ya, jauh sebelum masuk TK aku sudah bisa membaca. Ini
karena Ayah suka mengajariku membaca. Apapun tulisan yang Ayah
tunjuk pasti dengan cepat dan mudah bisa aku baca. Mulai dari
plang-plang (papan penunjuk apapun) di pinggir jalan sampai
tulisan romantis yang ada di stiker hadiah langsung buku teka-teki
silang yang sering dibeli Ayahku, dengan mudahnya bisa aku baca.
Dalam hal ini, aku tidak bermaksud sombong, tapi memang
begitulah adanya. Memang begitulah kenyataannya Ayah
mengajarkanku untuk tidak apa-apa menjadi anak laki-laki yang
nakal asalkan jangan jadi orang bodoh.


Lonceng masuk mulai dipukul oleh salah satu guru kalau tidak salah
namanya Ibu Maryam sebagai tanda masuk ke dalam ruangan yang
tidak begitu besar yang tak lain adalah tempat pertamaku menimba
ilmu.


Sebelum masuk kelas, kami pun berbaris. Satu persatu kuku kami
diperiksa oleh Bu Guru. Oiya, semua guru di sekolahku ini adalah
perempuan termasuk kepala sekolahnya. Tibalah gilirannya aku
yang diperiksa. Oh tidaaak, kuku ku cukup panjang dan bisa
dikatakan melanggar tata tertib syarat masuk ke dalam kelas. Pagi
ini adalah pertama kalinya aku dihukum di sekolah karena kuku
tangan yang masih panjang dan harus mengenakan sarung tangan
sebagai tanda yang sangat mencolok kalau aku berkuku panjang.
Benar-benar pengalaman pertama di sekolah yang sangat
memalukan.


Nama-nama pun mulai dipanggil oleh Guruku, dan kami pun satu
persatu mengacungkan tangan kanan sambil berdiri dan berteriak
selantang-lantangnya ”hadiir Bu Guru”. Baiklah, sepertinya hanya
empat orang anak laki-laki yang bersekolah di Taman Kanak-kanak
di TK Srikandi. Hari, Alfian, Rudi dan aku sendiri Budi. Mungkin
karena ini dinamakan Taman Kanak-kanak Srikandi yang dalam
dunia pewayangan Srikandi itu adalah seorang wanita, namun
karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria. Dewi Srikandi
sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam
mempergunakan senjata panah. Nah mungkin karena itulah semua
guru termasuk kepala sekolahnya perempuan. Dan murid-muridnya
kebanyakan perempuan. Tapi kami berempat (Hari, Alfian, Rudi dan
aku sendiri Budi ) tetaplah laki-laki yang normal dan akan menjadi
perkasa 15 tahun lagi. “tapi ga tau juga deng, Alfian terlihat sedikit
lebay kalau menurutku.. hehehe”.


Tak terasa sudah satu jam kami melewati aktifitas belajar di Sekolah
Taman-kanak Srikandi dengan bernyanyi. Kami menyanyikan
beberapa tembang yang cukup populer di kalangan anak berumur 5
tahun pada masa itu. Potong bebek angsa, Lihat kebunku, Pelangi-
pelangi, Naik Kereta Api, Oh Ibu dan Ayah selamat pagi dan Topi
saya bundar. Oiya, di TK Srikandi semua muridnya mengenakan
seragam berwarna oranye lengkap dengan dasi dan topinya yang
bundar. Dan warna oranye ini tidak ada hubungannya dengan Tim
Sepakbola asal ibukota yang baru saya tahu kalau namanya Persija
setelah umur saya bertambah 8 tahun. Tapi kami cukup terlihat
seperti Pasukan kesebelasan Persija junior yang sedang digembleng
untuk menjadi pemain bola hebat yang kenyataannya sampai saat
ini masih belum terlihat seperti itu.


”Tok..tok..tok..” Suara pintu diketuk dan terlihat sosok perempuan
seumuran denganku tampaknya, cantik mungil berkulit putih masuk
ke dalam kelas. Sendirian?? Ya, dia sendiri. Dan sepertinya dia
adalah salah satu murid baru yang juga ingin belajar di TK Srikandi.
Sepertinya dia benar-benar datang sendiri ke sekolah ini, tanpa
diantar oleh Ibu, Ayah atau orang yang lebih tua darinya. ”hhmmm,
berani juga ini anak” begitu gumamku dalam hati.


Ibu Maryam dengan lembut menanyakan nama anak itu. Anak itu
tak menjawab, hanya menggelengkan kepala. Tidak mengeluarkan
suara sedikitpun kemudian menunduk. Oke, perempuan itu tidak
memiliki nama. Padahal awalnya aku sudah membayangkan sebuah
nama yang cantik, secantik wajah mungilnya.


”ya sudah, kamu duduk disamping Hari ya?” Ibu Maryam sambil
menunjuk ke arah bangku kosong yang disampingnya adalah
temanku Hari.


”ssstt.. Har.. Har, tukeran tempat duduk yuk?” Hari pun beranjak
dari tempat duduknya dan aku pun kini sudah berada disamping
perempuan manis dan mungil tanpa nama itu.


Dengan keberanian besar dan mengesampingkan rasa malu aku pun
menghantarkan tangan untuk berjabat tangan sebagai awal dari
berkenalan. ”Kenalin, nama aku Budi, Budi Afriaz. Nama kamu
siapa?”. Jantungpun berdegup kencang. ”Baiklah, kalau kau tak mau
menjawab dan menghormati keberanianku untuk berkenalan
denganmu” gumamku dalam hati.
Ternyata dia menjawab jabat tanganku tanpa melihat wajahku tapi
malah melihat ke tanganku yang aku pun baru menyadarinya,
ternyata aku masih memakai sarung tangan. Dan akhirnya
terdengar suara halus yang dari tadi sangat aku nantikan keluar
dari dalam mulutnya. ”Fransiska, Fransiss.. ka.. In.. in.. indonesia”
hah! Pertama kalinya aku mendengar ada nama yang aneh seperti
itu. Baiklah, ternyata dapat aku simpulkan kalo dia memang cukup
malu untuk menyebutkan nama aneh itu. Pantas saja dia hanya
menggeleng ketika tadi Ibu Maryam menanyakan namanya di depan
kelas. Fransiska Indonesia. ”hhhmmm.. nama yang aneh tapi cukup
memiliki arti besar didalamnya”.


”Siapa yang mau bernyanyi ke depan kelas??” Tanya Ibu Maryam
kepada murid-muridnya dengan suara yang lumayan keras dan
cukup mengagetkanku, karena untuk beberapa saat aku terpana
oleh cantiknya wajah perempuan yang duduk di sebelahku. Tiba-tiba
dan tak tau kenapa, aku pun berdiri dan tanpa susah-susah lagi
disuruh untuk maju ke depan seperti kebanyakan mahasiswa
sekarang yang entah kenapa tidak cukup bernyali untuk berbicara di
depan kelas, aku beranjak dari tempat duduk ku.


Aku pun kini sudah berdiri di depan kelas. Mengambil posisi tegap
dengan tangan yang masih memakai sarung tangan sambil
diletakkan disamping badan dan bersiap-siap untuk menyanyikan
sebuah lagu yang aku harusnya aku sudah hapal. Mulai lah Ibu
Maryam memberikan komando kepada anak-anak yang lain untuk
bertepuk tangan sebagai pengganti alat musik bernada
mengiringiku bernyanyi.


“engkau yang cantik, engkau yang manis, engkau yang manja.
Selalu tersipu rawan sikapmu dibalik kemelutmu
Dirama kabutmu di tabir mega-megamu
Kumelihat dua tangan dibalik punggungmu”
Dengan lantang ku bernyanyi dan kemudian tanganku bergerak
sambil menunjuk ke arah seorang anak perempuan yang sedang
bengong melihat tingkahku, dan aku masih bernyanyi.


“Madu di tangan kananmu.. Racun di tangan Kirimu..
Aku tak tau mana yang akan kau berikan padaku”
Aku pun menunjukkan gestur menggelengkan kepala yang
menjelaskan kalau aku sedang tidak tahu sambil menggerakkan
kedua tangan ke dada ku sebagai gestur penguat kata ‘padaku’.


Oooh tidaaaak. Lagu apa yang telah aku nyanyikan?? Kenapa lagu
itu dan kenapa bahasa non verbalku terlihat begitu memalukan di
depan kelas?? Aku kenapaaa?? Aku juga tak tahu. Dan ternyata, aku
baru saja menyanyikan lagu yang seharusnya tidak dinyanyikan pleh
anak kecil seusiaku.


Ya, itu adalah lagu Madu dan Racun yang sering dibawakan oleh
Arie Wibowo. Seorang penyanyi Indonesia dengan penampilan yang
cukup nyentrik, senang mengenakan kacamata hitam ketika
bernyanyi dan selalu setia menggunakan piano casio kecil seperti
akordion tetapi bergagang menyerupai gitar. Dia lah penyanyi
kesukaan ku. Tidaaak, dia adalah penyanyi kesukaan Ibu ku. Dan
hampir setiap pagi, siang dan sore Ibu menyetel lagu-lagu Arie
Wibowo di radio tape nya dengan keras. Akibatnya telinga anak kecil
yang seharusnya lebih sering mendengarkan lagu pinokio-pinokia
boneka kayu yang lucu harus mendengarkan lagu-lagu seperti itu.


“Buahahahahahahahaha...!!!”
Seketika itu juga terdengar gelak tawa meledak-ledak temanku.
Karena aku baru saja menyanyikan lagu orang dewasa. Lagu yang
seharusnya tidak aku nyanyikan di depan kelas ini. Dan untuk
pertama kalinya, aku sudah membuat seorang anak perempuan
menangis di sekolah. Dia menangis mungkin karena malu aku
tunjuk-tunjuk sambil membawakan tembang populernya Arie
Wibowo yang ternyata itu adalah lagu orang dewasa, atau mungkin
malu karena ditertawai oleh teman-teman ku, mungkin juga dia
takut karena ini adalah kenyataan dan bukan mimpi.


Anak perempuan yang menangis sambil menutupi wajah malunya
itu adalah Fransiska, teman sebangku ku di Taman Kanak-kanak
Srikandi. Fransiska, gadis pemberani yang datang ke sekolah ini
sendiri tanpa diantar oleh orangtuanya. Fransiska Indonesia yang
memiliki nama aneh namun wajahnya sangat manis dan cantik.
Fransiska Indonesia yang ternyata bisa jadi aku menyukainya

Rabu, April 15, 2009

Kapal-Kapalan Kertasku

Saya masih ingat ketika pertama kali membuat kapal terbang atau pesawat lipat kertas. Waktu itu saya harus bersusah payah menghapalkan bagaimana cara membuatnya dengan tujuan membuat kapal-kapaln kertas yang sempurna supaya bisa terbang dengan indah di udara.

Pertama kali saya membuat kapal-kapalan kertas itu, saya membutuhkan kertas dengan kualitas yang masih bagus dan mulai melipatnya perlahan-lahan supaya hasilnya sempurna sehingga bisa terbang lama di udara. Tapi masih saja tidak bisa terbang tinggi dan jauh. Sampai akhirnya jatuh ke tempat yang sulit saya jangkau dan saya pun kembali membuat kapal-kapalan kertas yang baru.

Pada saat membuat kapal-kapalan kertas untuk yang kedua kalinya, saya belajar dari kesalahan supaya bisa terbang tinggi dan tidak jatuh ke tempat yang tidak saya inginkan. Saya mencoba membuat lengkungan yang berbeda pada sayapnya. Supaya bisa terbang tinggi. Dan Kali ini pesawat itupun terbang tinggi dan terjatuh tidak jauh dari tempat yang saya inginkan dan saya mencoba menerbangkan kembali sampai akhirnya tersangkut di genting dan saya tidak bisa mengambilnya. Kemudian saya kembali membuat kapal-kapalan kertas lagi.

Bertahun-tahun saya mempelajari bagaimana cara membuat kapal-kapalan kertas yang baik dan benar supaya bisa terbang tinggi dan lama berputar-putar di udara dan kalaupun terjatuh saya masih bisa mengambilnya karena masih terjatuh di tempat yang saya inginkan dan bisa dengan mudah saya jangkau dan saya terbangkan kembali.

Bertahun-tahun pula saya belajar menerbangkan kapal-kapalan kertas itu dan membaca situasi tempat yang bagus untuk menerbangkannya.

Begitulah Wanita, seperti kapal-kapalan kertas yang selalu ingin kita terbangkan ke tempat yang tinggi dan melayang-layang indah di udara dan kita menikmati itu. Kapal-kapalan kertas yang terbang tinggi dan melayang-layang dengan indah di udara itu adalah Cinta yang akan bertahan lama dengan kebahagiaan dan ketulusan yang kita inginkan dan impikan.

Kapal-kapalan kertas itu pasti akan jatuh nantinya. Walaupun kita bersikeras menginginkannya terbang lama, mustahil ia akan terus-menerus terbang. Ketika kapal-kapalan kertas itu terjatuh, ia akan jatuh tidak terlalu jauh dari tempat yang kita inginkan atau masih bisa terlihat oleh pandangan mata dan masih bisa kita jangkau dan ambil kembali. Lalu kita terbangkan kembali. Kalau bisa, kemana pun kapal-kapalan kertas itu terbang, kita ikuti dan pantau, kalau bisa coba tangkap! Itu mengartikan kalau di setiap hubungan percintaan itu tidak mungkin tidak akan ada masalah. Sebisa mungkin kita harus pertahankan wanita menjadi milik kita itu buatlah ia bahagia seperti kapal-kapalan kertas yang selalu ingin terbang tinggi.

Jangan sampai ia jatuh ditempat yang sulit dijangkau. Tapi kalau itu terjadi, coba berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkannya kembali. Karena akan menjadi kebanggaan tersendiri bila kita bisa menerbangkannya kembali.

Jangan pernah menyerah mempertahankan cinta, karena membuatnya bisa bahagia sangatlah tidak mudah. Akan memakan waktu yang tidak sebentar untuk membuat yang sempurna.

jangan terlalu lama pula kita membiarkannya ia terjatuh. Segala kemungkinan bisa terjadi. Banyak orang yang menginginkan kapal-kapalan kertas yang bisa terbang dengan indah. Kalau itu terjadi, kita harus memulainya membuat kapal-kapalan kertas yang baru.

Jangan pernah membuat lebih dari satu kapal-kapalan kertas. Karena kita akan kerepotan mengejarnya yang akan terbang ke arah yang berbeda.

Cari solusi atau jalan keluar setiap masalah yang kita dapatkan. Supaya bisa kita terbangkan lagi kapal-kapalan kertas itu ke tempat yang lebih jauh dan kita tangkap kembali.

Ikuti kemanapun ia terbang.
Berikan sesuatu yang bisa membuatnya ia bahagia, semampu kita dan sekeras usaha yang kita punya.

Rawat dan jaga baik-baik kapal-kapalan kertas itu. Karna ia mudah rapuh dan mudah rusak seperti wanita yang harus dijaga sepenuhnya supaya ia tidak bersedih.

Karena yang kita inginkan adalah memiliki satu kapal-kapalan kertas yang bisa terbang tinggi dan melayang-layang dengan indah. Suatu saat kita akan mulai menjadikan sesuatu yang berharga.

Karena yang kita inginkan adalah memiliki wanita berhati indah yang setiap saat bisa menghibur dan membuat kita tersenyum.

Semakin jauh kapal-kapalan kertas itu terbang adalah semakin jauh pula perjalanan cinta yang kita lalui. Dan semakin berpengalaman kita menerbangkan dan merawatnya. Hal itu sama dengan semakin lama kita bertahan dengan wanita yang sama, maka kita pasti akan mencintai dan terus menjaganya supaya bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga. Dan itu akan terus menerus membuat kita tersenyum bahagia nantinya.

Tidak semua orang bisa menerbangkan dengan baik kapal-kapalan kertas yang kita buat. Karena hanya kita yang tahu seperti apa ia terbang dan harus bagaimana cara menerbangkannya hanya kita yang tau sebagai pembuatnya.

Tidak semua kapal-kapalan kertas yang kita buat terbang dengan jarak dan gaya yang sama. Seperti wanita, tidak akan memiliki sifat dan karakter yang sama, pasti ada perbedaan. Kembali lagi bagaimana cara kita menghargai dan menjaganya supaya ia masih tetap menjadi kapal-kapalan kertas yang bisa terbang tinggi dan melayang-layang dengan indah di udara.

Dan saat ini, saya sedang membuat kapal-kapalan kertas yang baru.

Kapal-kapalan kertas yang bisa terbang tinggi dengan indahnya.

Kapal-kapalan kertas yang selalu bisa menghibur saya disaat saya sedang sedih dan terus membuat saya tersenyum bahagia.

Kapal-kapalan kertas yang saya harapkan akan menjadi sesuatu yang berharga dan saya cintai nantinya.

kapal-kapalan kertas dengan jarak tempuh terjauh dan saya tidak inginkan ia jatuh lagi di tempat sulit dijangkau dan diambil oleh orang lain.

Semoga saja.

Sebuah Karya Tulis dari Budi Afriaz si Pembuat Kapal-kapalan kertas.

Kamis, Maret 26, 2009

De Javu

Siang hari yang sangat terik sebelum Didit berangkat ke kampus untuk ujian akhir semester. motor yang sudah setengah jalan ke kampus terpaksa harus dibelokkan ke rumah tari, kekasih Didit yang akan berangkat ke Bandung dan berangkat dari hidup Didit. Membawa semua kenangan mereka ke tempat yang sangat jauh.


12.30 di kamar Tari win amp memutarkan lagu Maliq n D' Essential - Untitled

* Tari *
"aku ga mau kamu ninggalin aku Dit" neng menangis sambil menghapus air matanya.

* Didit *
"aa juga ga mau ninggalin kamu neng, tapi kan neng udah ngundang orang lain masuk kedalam hidupmu juga dan kamu nikmatin itu kan?" Didit pun mencoba untuk tidak ikut mencucurkan air matanya.

* Tari *
"Tapi aku sayang kamu a, sayang sekali"

* Didit *
"Kalo sayang kamu ga akan ngundang dia neng. Kamu ga akan menjadikan dia sebagai pelengkap kekurangan aa neng. Kamu yang tiap hari jadi inspirasi aa. Dan tiap hari aa terus mikir gimana caranya bikin kamu bahagia. Kamu lupa ya? Kamu yang janji akan support aa sampe lulus kuliah nanti dan itu ga lama lagi neng." mata itu tak bisa dibohongi, air yang harusnya tidak boleh keluar dari mata seorang laki-laki akhirnya terpaksa harus dikesampingkan dulu gengsinya. Deras Sekali.

* Tari *
"iyaa, ga lama lagi memang. Dan ga lama lagi juga dia pengen ngelamar aku. Dari dulu aku udah support kamu untuk serius kuliah. Tapi, kamu malah ga dengerin kata-kata aku. Kamu malah asyik sama hobi kamu dan neng harus sendirian tiap harinya. Dan ini yang bikin neng mikir kalo kamu ga bisa pernah serius dan ga pernah mau mikirin hubungan kita akan dibawa kemana nantinya. Sampai akhirnya dia datang ke hidup aku dan merhatiin aku lebih dari kamu."

Selama ini Didit memang asyik dengan hobi fotografinya. Tapi itu semua dilakukan Didit semata-mata untuk membuktikan kalau hobi itu bisa dijadikan pekerjaan dan nantinya yang akan menjadi batu loncatan untuk ke jenjang hidup yang lebih layak. Hidup layak untuk Didit dan Tari.

12.39 di kamar Tari Ahmad Dhani - Aku Cinta Kau dan Dia

* Didit *
"Aku ngelakuin ini juga buat kita nantinya neng. Dan akhir-akhir ini aku juga udah ga cuekin kamu lagi. Aku udah ngerasa kehilangan banget pas kamu pindah ke Bandung. Selama ini tiap hari aku ketemu kamu dan tiba-tiba kamu pergi. Aku pun akhirnya ngerasa jauh dan aku mau berubah. Tapi kenapa, setelah aku berubah dan mau nunjukin keseriusan aku itu, kamu malah ngehadirin orang lain di hidup kamu? Kamu juga harus tau, aku selama beberapa bulan ini udah dapet kerjaan yang memang ga semapan orang itu. Tapi aku punya niat untuk jenguk kamu di sana."

* Tari *
"eneng tau a, tapi dia yang selama ini merhatiin neng selama di Bandung. Dia yang selama ini jadi curahan kemarahan aku kalo aku lagi kesel sama kamu. Neng kesepian di sana. Dan dia juga butuh Neng, kasian dia ga punya temen dan sendiri disana."

* Didit *
"Gini ya neng, kalo aku ga kuliah, aku pasti akan nemuin kamu di sana. Lagipula neng kan tau, aa juga sambilan kerja buat biayain kuliah ini. Ga akan mungkin aa minta uang Ibu terus. Aku harus tanggung jawab buat jalan hidup yang aku jalanin sekarang. Dan kamu juga kemana saat aa butuh kamu? padahal aa tau, minggu kemarin kamu lagi di Jakarta dan kamu lagi sama dia kan?"

* Tari *
"aa tau dari mana?" Air mata itu makin deras saja.

* Didit *
"aa punya mata neng. dan hati ini juga punya mata"

Tari pun terdiam dan langsung memeluk Didit yang rasanya setelah ini mereka tidak akan bertemu untuk waktu yang lama.

12.45 di kamar Tari Peterpan - Yang Terdalam
* Didit *
"Kamu tau, tiap hari aku selalu nunggu kabar kamu, sms kamu, telfon dari kamu, tapi kamu tetep aja ga ada kabarnya. aa juga udah coba sms dan telfon kamu berkali-kali tapi kamu juga ga bales dan jawab telfon dari aa. itu juga ga hanya sekali dua kali. tapi sering..!!!" Intonasi Didit kini meninggi.

* Tari *
"aa juga harus tau kalo aku sibuk disana"

* Didit *
"Iya sibuuuuk banget. Sampe-sampe, presiden aja kalah sibuknya. Sampe-sampe aku harus ngemis-ngemis supaya kamu bales sms dan angkat telfon aku. Malem pun aku telfon kamu, kamunya udah keburu capek. Kamunya keburu ngantuk. Dan sampe-sampe aku yang bener-bener kangen sama suara centil dan manja kamu. Kangen sama cerita keseharian kamu di sana"

* Tari *
"Trus, sekarang aa maunya gimana?" Suara Tari semakin mengecil dan tak bisa menahan kesedihan karena ia tau sebentar lagi Didit yang selama ini ia sayangi akan pergi. Bukan karena ingin pergi ke kampus, bukan karna ingin pergi ujian, tapi pergi selamanya.

* Didit *
"aku mau hubungan kita sehat. Ga kayak gini. Hanya ada kamu sama aku. " suara Didit pun melemah.

* Tari *
"Tapi aku ga bisa ngelepas diaaa"

Air mata mereka menetes tak bisa dibendung lagi. Isak tangis Tari memecahkan kesunyian komplek sepi di siang itu.

13.03 di kamar Tari Peterpan - Semua Tentang Kita

* Didit *
"Gini aja, Kamu seneng keseharianmu sama dia? Kamu bahagia sama dia? Kamu sayaa..ng sama diiaa.."

Tari pun hanya bisa menunduk dan membiarkan air mata itu membasahi lantai.

* Didit *
"Gini ya neng, kalo kamu emang bahagia sama dia, kalo kamu emang sayang sama dia, aa rela ngelepas kamu. aa rela ngorbanin perasaan ini buat kamu. aa rela ngeliat kamu bahagia sama orang lain"

Tari pun memeluk Didit. Kencang sekali. Seakan tak mau Didit pergi darinya.

* Tari *
"Maafin neng ya a? Neng ga bisa jadi perempuan yang bisa buat kamu bahagia. Neng ga bisa penuhin janji neng buat jadi wanita terbaik dalam hidup kamu. Neng ga akan bisa ngelupain kamu. Ngelupain semuanya. Ngelupain semua cerita tentang kita. Neng sayang kamu, tapi neng harus pilih salah satu dan itu berat banget buat neng. Maafin neng udah bikin kamu dan keluargamu kecewa. 5 tahun yang kita jalanin akan jadi kenangan paling indah buat neng. Kamu masih boleh nemuin neng kok. Tapi keadaannya mungkin ga seperti kita dulu. Dan makasih udah mau ngeliat neng bahagia. Aku akan support kuliah kamu terus, sampe nanti kamu wisuda dan neng mau ngedampingin kamu disana. Pokoknya kamu harus sukses. Kamu harus bisa nemuin perempuan yang lebih baik dari aku. Kamu juga harus bisa bahagia"

Mereka pun saling memeluk erat dan air mata pun membasahi tubuh mereka siang itu. Siang yang terik, tapi basah oleh air mata dua anak manusia yang sebenarnya saling mencintai tapi tak pernah yakin bisa bersatu. Dua anak manusia yang berpagut erat dan tak mau melepaskan. Dua anak manusia yang harus dipisahkan oleh keadaan latar hidup masing.

* Didit *
"Kamu harus bisa bahagia sama dia. Dan itu yang bikin aku berhenti nangisin kepergian kamu. Kamu harus serius sama dia. Dan itu yang akan bikin aku jadi lebih serius lagi ngejalanin hidup aku yang ga bener ini. Ga usah pikirin aku. Aku ikhlas ngelepas kamu yang penting kamu bisa tersenyum terus tanpa harus diomelin tiap harinya sama aku. Tanpa harus dibikin pusing sama urusan-urusan aku yang ga penting ini. Aku yang egois udah pertahanin kamu padahal akunya ga pernah mikirin hubungan kita mau dibawa kemana nantinya. Maafin aku juga udah bikin kamu susah selama ini. Aku sayang kamu. Dan beginilah cara terakhir aku ngungkapin sayang aku ke kamu. dengan rela ngebiarin kamu mencari kebahagian sama orang lain."

Diditpun pergi meninggalkan Tari. Pergi meninggalkan kenangan dan cita-cita yang selama ini ia cicil sebisa mungkin untuk dipersembahkan sebagai hadiah yang tak ternilai harganya kepada perempuan yang paling ia kagumi selama ini. Pergi Meninggalkan perempuan yang harusnya bisa bahagia dengannya tapi harus mencari kebahagiaan di tempat lain. Pergi meninggalkan perempuan yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya dan kali ini harus ia terima kalau perempuan itu yang sebenarnya pergi meninggalkan Didit dan membuang jauh-jauh semangat hidup Didit.

Oh Hujan Turun Lagi

sinar matahari pun mulai tak kelihatan.
langit gelap mulai berani menampakkan wajahnya.
tampaknya hujan lebat sebentar lagi akan turun.

tidak..
hujan itu sudah turun.
lebat sekali.
saking lebatnya, saya tidak sanggup melihat ke atas.
hanya bisa tertunduk menahan perihnya terpaan air hujan yang sangat lebat itu.
sampai-sampai nyawapun sudah hilang separuh.

pandangan pun mulai ikut tidak jelas.
ada apa di depan sana?
saya tidak tau.
saya tidak dapat melihatnya.

apakah saya harus bergerak ke depan?

atau diam di tempat sambil tertunduk menahan perih sampai hujan yang lebat ini berhenti?

atau berharap menunggu seseorang datang membawakan payung kepada saya?
huff,

detik pun berlalu.
menit pun berlalu.
jam pun berlalu.
hari pun berlalu.
minggu pun berlalu.
bulan pun juga berlalu.
tapi hujan lebat ini masih saja deras.
perihnya terpaan hujan sudah tak sesakit tadi.
mungkin saya sudah terbiasa.
tapi pandangan mata masih saja kabur.
masih tidak jelas ada apa di depan sana.

baiklah,
saya harus bergerak maju ke depan.
saya tidak bisa hanya berdiam diri tertunduk menahan perihnya hujan di sini.
harapan tentang datangnya seseorangpun juga harus saya singkirkan saja.

baiklah,
saya pun mulai berjalan ke depan.
selangkah demi selangkah.
berat memang, tapi saya harus melangkah.
walaupun hujan masih saja deras.
walaupun pandangan masih saja tidak jelas.

semoga hujan deras ini cepat berhenti.
semoga di depan sana ada persinggahan untuk berteduh dan beristirahat sejenak.

semoga di depan sana saya bisa bertemu seseorang yang membawa payung dan bisa memintanya untuk bersedia jalan bersama melewati lebatnya hujan.

semoga..